Pendahuluan
Strategi merupakan sebuah rencana kegiatan yang disusun secara cermat dan sistematis untuk mencapai tujuan tertentu. Menurut Wina Sanjaya (2016), strategi pembelajaran merupakan rencana tindakan (rangkaian kegiatan) termasuk penggunaan metode dan pemanfaatan berbagai sumber daya atau kekuatan dalam pembelajaran yang disusun untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam konteks yang senada, strategi juga dapat diartikan sebagai garis besar haluan bertindak guna memenangi atau mencapai sasaran yang telah ditetapkan secara efektif dan efisien.
Di sisi lain, proses belajar dan mengajar merupakan dua aktivitas yang saling berinteraksi dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Oemar Hamalik (2015) menegaskan bahwa belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku individu melalui interaksi dengan lingkungannya, sehingga kegiatan belajar senantiasa didasarkan pada manifestasi tindakan siswa. Sebaliknya, mengajar mengacu pada seluruh rangkaian aktivitas guru dalam mengorganisasi dan mengelola lingkungan belajar agar mendorong siswa melakukan proses belajar secara optimal.
Permasalahan kesulitan belajar yang umum dihadapi oleh siswa di sekolah merupakan isu kritis yang memerlukan perhatian serius serta penanganan segera dari para pendidik. Sugihartono, dkk. (2013) menyatakan bahwa kesulitan belajar adalah suatu kondisi psikologis dan fisiologis yang menyebabkan siswa tidak dapat belajar sebagaimana mestinya, yang dipengaruhi oleh faktor internal maupun eksternal seperti sistem pembelajaran yang kurang adaptif. Kesulitan belajar yang dialami siswa di sekolah terbukti membawa dampak buruk, baik bagi perkembangan kepribadian siswa itu sendiri maupun bagi interaksi sosial di lingkungan sekitarnya.
Apabila seorang siswa terus-menerus gagal memahami topik pembelajaran tertentu, mereka rentan mengalami frustrasi, krisis kepercayaan diri (rendah diri), serta merasa teralienasi atau diremehkan dalam situasi sosial di kelas. Dampak psikologis dan sosial yang destruktif dari kondisi ini meliputi munculnya kecenderungan pergaulan yang menyimpang, mogok sekolah, hingga putus sekolah (drop out), atau keinginan untuk pindah sekolah akibat rasa malu karena tertinggal dari teman sebayanya.
Mengingat besarnya kompleksitas risiko yang timbul akibat kesulitan belajar siswa, guru—khususnya guru Pendidikan Agama Islam (PAI) bidang studi Al-Qur’an Hadis—harus memiliki kompetensi yang mumpuni untuk mengendalikan kelas, memberikan motivasi yang berkelanjutan, serta membimbing siswa secara intensif. Pendekatan khusus sangat diperlukan dalam membangun kedekatan emosional dan spiritual siswa terhadap materi Al-Qur’an Hadis, terutama dalam menumbuhkan kecintaan mendalam terhadap pembacaan dan pemahaman kitab suci.
Karakteristik Mata Pelajaran Al-Qur’an Hadis
Mata pelajaran Al-Qur’an Hadis merupakan salah satu pilar utama dalam struktur kurikulum PAI di madrasah maupun sekolah dasar dan menengah. Muhaimin (2012) menjelaskan bahwa pembelajaran Al-Qur’an Hadis tidak sekadar mentransfer pengetahuan normatif, melainkan bertujuan memberikan bekal teologis dan humanistik kepada siswa. Topik-topik di dalamnya memuat ajaran tentang esensi kemanusiaan, tanggung jawab khalifah di muka bumi, prinsip demokrasi (syura), serta respons Islam terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam perspektif Al-Qur’an dan Hadis sebagai bekal aktual untuk hidup bermasyarakat.
Secara esensial, mata pelajaran Al-Qur’an Hadis bertujuan memotivasi, mengarahkan, dan membimbing siswa untuk tidak hanya mempelajari, tetapi juga menghayati dan mengamalkan ajaran serta nilai-nilai luhur yang terkandung di dalam dua sumber utama hukum Islam tersebut. Nilai-nilai ini berfungsi sebagai orientasi moral, kompas spiritual, dan pedoman praktis dalam menjalani kehidupan sehari-hari di tengah dinamika zaman.
Peran dan Profesionalisme Guru Al-Qur’an Hadis
Seorang guru mata pelajaran Al-Qur’an Hadis dituntut untuk menjalankan tugas profesinya dengan integritas tinggi. Ramayulis (2014) mengemukakan bahwa guru agama memiliki peran ganda, yakni sebagai mu’allim (transfer ilmu) sekaligus murobbi (pembentuk karakter). Sebagai seorang pendidik, guru Al-Qur’an Hadis wajib menjadi uswatun hasanah (panutan dan teladan yang baik) bagi seluruh muridnya, baik dalam aspek perkataan, sikap, maupun perbuatan nyata.
Profesionalisme dan komitmen seorang guru diuji ketika ia merasa termotivasi dan tertantang untuk mendidik siswa yang belum memahami materi pelajaran selama proses pembelajaran berlangsung. Karakteristik ideal ini tampak nyata saat guru menunjukkan kesabaran ekstra dalam membimbing siswa yang belum mampu membaca Al-Qur’an secara fasih. Siswa tersebut dituntun satu per satu (secara individual) agar mampu membaca dengan baik dan benar sesuai dengan kaidah-kaidah ilmu tajwid dan makharijul huruf.
Untuk mengatasi kesulitan siswa dalam membaca Al-Qur’an, guru menjalankan fungsi bimbingan secara terstruktur. Metode operasional yang sering diterapkan adalah metode demonstrasi dan imitasi (talaqqi atau musyafahah), di mana siswa meniru secara presisi bacaan Al-Qur’an yang dilafalkan oleh guru. Pembinaan khusus bagi siswa yang mengalami hambatan membaca ini dilaksanakan secara fleksibel, baik memanfaatkan sisa waktu tatap muka di dalam kelas setelah materi ajar selesai disampaikan, maupun di luar jam pelajaran resmi melalui pembentukan kelompok belajar terpumpun.
Oleh karena itu, guru Al-Qur’an Hadis harus memenuhi standar kualitas kepribadian dan kompetensi sosial tertentu. Sebagaimana ditegaskan oleh Jejen Musfah (2011), kompetensi kepribadian guru mencakup wewenang (kewibawaan), kemandirian, kedisiplinan, serta rasa tanggung jawab yang tinggi. Guru perlu menginternalisasi nilai dan norma moral, bersikap ramah, serta konsisten bertindak sesuai dengan etika Islami. Kewibawaan seorang guru lahir dari keunggulannya dalam mengaktualisasikan nilai-nilai spiritual, emosional, moral, sosial, dan intelektual dalam kehidupan pribadinya, sekaligus didukung oleh penguasaan yang mendalam terhadap ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.
Strategi Guru dalam Mengatasi Kesulitan Belajar
Guna meminimalkan kegagalan akademik siswa dalam mata pelajaran Al-Qur’an Hadis, diterapkan beberapa strategi bimbingan yang komprehensif sebagai berikut:
A. Bimbingan Belajar (Akademik)
Bimbingan ini difokuskan kepada peserta didik yang mengalami hambatan spesifik dalam aktivitas akademik, baik di dalam maupun di luar sekolah. Prayitno (2013) menyebutkan bahwa bimbingan belajar bertujuan membantu siswa mengembangkan kebiasaan belajar yang baik dan mengatasi kesulitan penguasaan materi. Strategi konkret yang dilakukan meliputi:
- Pemberian motivasi berkelanjutan dan masukan konstruktif selama proses pembelajaran.
- Pembiasaan (kegiatan rutin) membaca Al-Qur’an di sekolah setiap pagi sebelum jam pelajaran pertama dimulai demi membangun kedekatan spiritual (spiritual conditioning).
- Penyediaan layanan pengajaran tambahan (suplemen akademik), seperti bimbingan intensif membaca dan menulis Al-Qur’an (BTQ) yang dilaksanakan selepas jam sekolah reguler berakhir.
B. Bimbingan Pribadi
Bimbingan pribadi bertujuan membantu individu mengatasi permasalahan psikologis atau emosional internal yang bersumber dari ketidakmampuan beradaptasi dengan lingkungan, perkembangan fase remaja, dinamika keluarga, problem persahabatan, maupun kecemasan akan masa depan. Masalah pribadi seperti konflik dengan orang tua atau tekanan kurikulum sering kali menjadi pemicu utama menurunnya konsentrasi dan motivasi belajar siswa. Layanan konseling individual (one-on-one counseling) diberikan secara persuasif guna membantu memulihkan kestabilan emosi siswa sehingga mereka dapat kembali belajar secara optimal.
C. Bimbingan Orang Tua (Kolaborasi Tri Pusat Pendidikan)
Setiap orang tua menaruh harapan besar terhadap kesuksesan hidup anaknya di masa depan melalui jalur pendidikan di sekolah. Namun, tidak sedikit orang tua yang kurang peka terhadap tingkat kemampuan riil serta kesulitan belajar yang dialami oleh anak mereka. Layanan ini bertujuan menjembatani komunikasi antara sekolah dan rumah. Guru memberikan informasi berkala mengenai bakat, minat, keterbatasan, serta perkembangan sifat pribadi siswa kepada orang tua, sehingga terwujud keselarasan stimulasi dan bimbingan belajar di rumah demi mengatasi ketidakmampuan belajar anak.
D. Pengajaran Remedial (Remedial Teaching)
Menurut Isjoni (2011), pengajaran remedial merupakan bentuk pembelajaran yang bersifat kuratif atau penyembuhan bagi siswa yang belum mencapai Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran (KKTP). Melalui pendekatan remedial yang dirancang secara individual maupun berkelompok, guru mendiagnosis letak kesulitan belajar siswa, mengatur ulang strategi penyampaian materi, memberikan latihan adaptif, dan memberikan tes ulang hingga siswa berhasil menuntaskan kompetensi minimum yang disyaratkan dalam mata pelajaran Al-Qur’an Hadis.
Daftar Pustaka
Ainun Nisaissholihah, dkk. 2022. “Penerapan Strategi Pembelajaran Reading Guide Pada Mata Pelajaran Al-Qur’an Hadits Kelas Iii Mi Nurul Huda Karanganyar Bantarbolang Pemalang”, Jurnal Al-Miskawaih, 3(2), hlm 109-120.
Amak Fadholi, dkk. 2022. “Peran Guru Mata Pelajaran Al-Qur’an Hadits Dalam Mengatasi Kesulitan Membaca Al-Qur’an Pada Siswa Madrasah Tsanawiyah”, Jurnal Pendidikan Agama Islam, 2 (1), hlm 76-85.
Hamalik, Oemar. 2015. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.
Hepi Ikmal, Silfiana Aprilia Setianingrum. 2018. “Strategi Guru Al-Qur’an Hadits Dalam Mengatasi Kesulitan Belajar Membaca Al-Qur’an Peserta Didik”, Jurnal Studi Islam, 12(1), hlm 213- 223.
Isjoni. 2011. Model-Model Pembelajaran Mutakhir. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Muhaimin. 2012. Paradigma Pendidikan Islam: Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama Islam di Sekolah. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Musfah, Jejen. 2011. Peningkatan Kompetensi Guru: Melalui Pelatihan dan Sumber Belajar Teori dan Praktik. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Prayitno. 2013. Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Rineka Cipta.
Ramayulis. 2014. Metodologi Pendidikan Agama Islam. Jakarta: Kalam Mulia.
Sanjaya, Wina. 2016. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Prenadamedia Group.
Sugihartono, dkk. 2013. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: UNY Press.

