KeislamanTokoh

Gus Baha Ulama Karismatik Menyejukkan dan Menyatukan Umat

2 Mins read

Sudah tidak asing bagi kita sosok kiai alim asal Rembang ini. Videonya tersebar luas di YouTube, Facebook, dan berbagai media sosial lainnya. Sosok Gus Baha yang sederhana dan karismatik membuat banyak masyarakat jatuh hati.

​Tak cuma alim, metode penyampaian kajian yang sederhana dan penuh canda tawa membuat para pendengar tidak merasa bosan untuk selalu mengikuti ceramah-ceramah beliau. KH Bahauddin bin Kiai Nursalim, atau dikenal sebagai Gus Baha, lahir di Rembang pada 29 September 1970. Beliau dikenal sebagai salah satu ulama ahli tafsir yang hafal Al-Qur’an sekaligus memiliki pengetahuan mendalam mengenai kitab suci tersebut. Ia merupakan salah satu murid dari ulama karismatik, Kiai Maimun Zubair, yang dikenal sangat fakih.

​Dalam setiap ceramahnya, Gus Baha selalu menekankan pentingnya bertauhid dengan benar, pentingnya thulabul ‘ilmi (menuntut ilmu), dan marifat kepada Allah serta Rasul-Nya. Sebagaimana dijelaskan oleh Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin, menuntut ilmu agama merupakan kewajiban individu (fardhu ‘ain) yang menjadi pondasi utama keimanan seseorang. Gus Baha selalu menyampaikan wejangan yang membuat hati pendengarnya tersadar dan tergerak untuk segera beramal.

​Bukan ceramah yang ta’ashub (fanatik) kepada suatu kelompok tertentu dan menyudutkan kelompok lain, ia tidak ingin terjadi perpecahan dalam diri umat Islam. Dalam pandangan sosiologi agama (Azra, 2004), persatuan umat Islam di Indonesia sangat bergantung pada ikatan ukhuwah dan moderasi beragama (wasathiyyah) yang dijaga oleh para pemuka agama.

​Bahkan dalam satu kesempatan, Gus Baha menyatakan dengan sangat terang bahwa jika diminta memilih mengikuti suatu jamaah dalam konteks Indonesia, ia hanya akan memilih Nahdlatul Ulama (NU) atau Muhammadiyah. Logika sederhananya, akan lebih mudah mempersatukan dua organisasi kemasyarakatan (ormas) besar yang memiliki latar belakang sanad keilmuan yang sama ketimbang setiap ada perbedaan pendapat lalu membuat ormas baru. Jika demikian, akan lahir ormas ketiga, keempat, kelima, dan seterusnya. Hal ini bukan semakin mempersatukan, melainkan semakin memperlebar perbedaan dan perpecahan.

Baca...  Sejarah Terciptanya Ilmu Nahu

​Maka dari itu, Gus Baha tidak pernah mempermasalahkan perbedaan yang ada di antara NU dan Muhammadiyah. Beliau sangat tahu bahwa NU dan Muhammadiyah adalah dua ormas penyangga kebinekaan di Indonesia. Jika meminjam istilah Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Prof. Abdul Mu’ti (2020), NU dan Muhammadiyah bagaikan sepasang sandal yang tidak akan berfungsi jika hanya ada satu saja. Kehadiran kedua ormas tersebut saling melengkapi satu sama lain demi menjaga kerukunan bangsa.

​Jika para ulama di Nusantara ini sadar akan pentingnya persatuan dan kesatuan serta menumbuhkan budaya saling menghormati dan mencintai saudara sesama muslim, insyaAllah tidak lama lagi kejayaan Islam akan terwujud. Sebagaimana dicatat dalam sejarah pergerakan Islam di Indonesia (Noer, 1973), KH Hasyim Asy’ari dan KH Ahmad Dahlan memiliki hubungan persahabatan dan mutual hormat yang sangat erat karena bertumpu pada guru yang sama saat menuntut ilmu di Makkah.

​Hari ini, teladan persatuan dari para ulama kita sudah mulai terlihat kembali. Ustaz Adi Hidayat dalam beberapa ceramahnya kerap memuji kealiman Gus Baha. Begitu pula Ustaz Abdul Somad yang juga pernah menyampaikan apresiasi atas kedalaman ilmu Ustaz Adi Hidayat.

​Semoga kita sebagai masyarakat awam dapat meneladani sikap ulama-ulama kita yang telah mencontohkan banyak hal baik. Semoga pula persatuan umat Islam di Indonesia dapat terealisasi secara utuh.

​Daftar Referensi yang Disisipkan dalam Teks:

  1. ​Al-Ghazali. (Ihya’ ‘Ulumiddin) — Mengenai konsep kewajiban menuntut ilmu (thulabul ‘ilmi) dan marifat.
  2. ​Azra, A. (2004). Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara XIX dan XX. Bandung: Mizan. — Mengenai moderasi beragama dan ikatan ukhuwah para ulama.
  3. ​Mu’ti, A. (2020). Pernyataan Publik Sekretaris Umum PP Muhammadiyah mengenai analogi sandal untuk hubungan NU dan Muhammadiyah.
  4. ​Noer, D. (1973). Gerakan Moderen Islam di Indonesia 1900–1942. Jakarta: LP3ES. — Mengenai rekam jejak hubungan sejarah KH Hasyim Asy’ari dan KH Ahmad Dahlan.
Baca...  Gus Ulil Teologi Asy'ariyah (1): Klaim Tentang Tindakan Tuhan
16 posts

About author
Redaktur Kuliah Al Islam
Articles
Related posts
KeislamanPendidikan

​Fathu Makkah ke Ruang Kelas MI: Menanamkan Antiperundungan

5 Mins read
​Baru-baru ini, masyarakat Indonesia kembali terkejut oleh maraknya kasus perundungan (bullying) yang melibatkan siswa sekolah. Ada siswa yang dipukul hanya karena dianggap…
KeislamanPendidikan

Urgensi Pembelajaran SKI dalam Membentuk Literasi Sejarah Gen Z

7 Mins read
Pendahuluan ​Mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) memegang posisi sentral dalam lingkungan pendidikan Islam karena tidak hanya memuat kronologi masa lalu, melainkan…
KeislamanPendidikan

Menanamkan Nilai Toleransi SKI SD/MI lewat Piagam Madinah dan Pancasila

5 Mins read
​Indonesia ialah rumah besar bagi ratusan suku, bahasa, dan keyakinan. Di tengah keragaman yang begitu luas dan indah ini, menanamkan benih toleransi…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *