Keislaman

Sifat Allah Al-Ghaffar dalam Penafsiran Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab

4 Mins read

Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab menjelaskan bahwa kata Al-Ghaffar terambil dari kata “Ghafara” yang berarti “menutup”. Ada juga yang berpendapat berasal dari kata “Alghafaru”, yakni sejenis tumbuhan yang digunakan untuk mengobati luka. Jika pendapat pertama yang dipilih, maka Allah Ghaffar berarti antara lain, Dia menutupi dosa hamba-hamba-Nya karena kemurahan dan anugerah-Nya. Sedang bila yang kedua, maka ini bermakna Allah menganugerahi hamba-Nya penyesalan atas dosa-dosa, sehingga penyesalan ini berakibat kesembuhan, dalam hal ini terhapusnya dosa. Kalimat “Allahummaghfir lii” juga dipahami dalam arti “Ya Allah perbaikilah keadaanku”. Demikian pendapat Ibnul A’raby.

​Dalam Al-Qur’an kata Ghaffar terulang sebanyak lima kali. Ada yang berdiri sendiri seperti dalam Q.S. Nuh kepada kaumnya, “Beristigfarlah kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia senantiasa Ghaffar” dan Q.S. Thaha [20]: 82: “Sesungguhnya Aku Ghaffar bagi yang bertobat, beriman, dan beramal saleh, lalu memperoleh hidayah.” Tiga lainnya dirangkaikan dengan sifat “’Aziz” yang mendahuluinya. Yang dirangkaikan ini dikemukakan bukan dalam konteks pengampunan dosa. Ini memberi kesan bahwa Allah sebagai “Ghaffar” bukan hanya menutupi kesalahan dan dosa-dosa hamba-Nya, tetapi yang ditutupi-Nya itu mencakup banyak hal selain dari dosa.

​Allah berfirman: “Sesungguhnya Tuhanmu sangat luas Maghfirah-Nya” (Q.S. An-Najm [53]: 32 / catatan: rujukan ayat disesuaikan). Keluasan ini tidak hanya mengantar kepada berulang-ulangnya Yang Maha Pengampun itu mengampuni dosa, tetapi juga mengisyaratkan banyaknya cakupan dari Maghfirah-Nya. Allah tidak hanya mengampuni dosa besar atau kecil yang berkaitan dengan pelanggaran perintah dan larangan-Nya atau yang dinamai hukum syariat, tetapi juga yang berkaitan dengan pelanggaran terhadap hukum moral yang boleh jadi tidak dinilai dari segi syariat sebagai dosa, bahkan mencakup pula persoalan-persoalan yang dianggap tidak wajar dari segi cinta dan emosi.

Baca...  Gus Ulil Ngaji Ihya' Ulumuddin: Riwayat Keharusan Mencela dan Mengkritik Dunia

​Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam memohon kiranya Allah mengampuni beliau menyangkut “ketidakadilan hati beliau dalam cinta terhadap istri-istri beliau”: “Inilah hasil upaya (dalam cinta) menyangkut hal yang kumampui, maka jangan tuntut aku menyangkut yang di luar kemampuanku.” Dalam hal-hal yang semacam inilah hendaknya dipahami Maghfirah Allah kepada para Nabi dan Rasul-Nya, setelah mereka pada hakikatnya terbebaskan dari aneka dosa dari segi pandangan syariat.

​Imam Ghazali bahkan mengarah kepada hal yang lebih jauh dari apa yang dikemukakan di atas. Hujjatul Islam ini menjelaskan bahwa Ghaffar adalah “yang menampakkan keindahan dan menutupi keburukan”. Dosa-dosa, tulisnya, adalah bagian dari sejumlah keburukan yang ditutupi-Nya dengan jalan tidak menampakkannya di dunia serta mengesampingkan siksa-Nya di akhirat. Pertama, yang ditutupi oleh Allah dari hamba-hamba-Nya adalah sisi dalam jasmani manusia yang tidak sedap dipandang mata. Ini ditutupi-Nya dengan keindahan lahiriah.

​Alangkah jauh perbedaan antara sisi dalam dan sisi lahir manusia dari segi kebersihan dan kekotoran, keburukan dan keindahan. Perhatikanlah apa yang tampak dan apa pula yang tertutupi dari jasmani Anda. Hal kedua yang ditutupi Allah adalah bisikan hati serta kehendak-kehendak manusia yang buruk. Tidak seorang pun mengetahui isi hati manusia kecuali Allah dan dirinya sendiri. Seandainya terungkap apa yang terlintas dalam pikiran atau terkuak apa yang terbetik dalam hati menyangkut kejahatan, penipuan, buruk sangka, atau dengki, maka sungguh manusia akan mengalami kesulitan dalam hidupnya. Begitulah kata Imam Al-Ghazali.

​Allah tidak hanya menutupi apa yang dirahasiakan manusia terhadap orang lain, tetapi juga menutupi sekian banyak pengalaman masa lalunya, kesedihan, atau keinginannya yang dipendam dan ditutupi oleh Allah di bawah sadar manusia sendiri, yang kalau dinampakkan kepada orang lain atau dimunculkan ke permukaan hati yang bersangkutan sendiri pasti akan mengakibatkan gangguan.

Baca...  Mengenal Konsep Ahlul Halli Wal Aqdi yang Jadi Usulan Majelis-Majelis di PPP

​Hal ketiga yang ditutupi Allah selaku Ghaffar adalah dosa dan pelanggaran-pelanggaran manusia yang seharusnya dapat diketahui umum. Sedemikian besar anugerah-Nya sampai-sampai Dia menjanjikan menukar kesalahan dan dosa-dosa itu dengan kebaikan jika yang bersangkutan berupaya untuk kembali kepada-Nya. Ketika berbicara tentang mereka yang bergelimang dalam dosa dan yang dilipatgandakan siksa baginya di hari kemudian, Allah mengecualikan: “Orang yang bertobat, beriman, dan beramal saleh. Mereka itu yang digantikan Allah kejahatan mereka dengan kebaikan” (Q.S. Al-Furqan [25]: 70).

​Jika demikian itu cakupan Maghfirah Allah, maka ia tidak hanya tertuju kepada orang-orang beriman, tetapi juga tertuju dalam kehidupan dunia ini kepada orang-orang kafir yang tidak percaya adanya hari kebangkitan. Al-Qur’an surah Ar-Ra’d ayat 6 mengisyaratkan hal itu. Firman-Nya: “Mereka meminta kepadamu supaya disegerakan bagi mereka siksa sebelum mereka meminta kebaikan, padahal telah terjadi bermacam-macam contoh siksa sebelum mereka. Sesungguhnya Tuhanmu memiliki Maghfirah bagi manusia atas kezaliman mereka dan sesungguhnya Tuhanmu amat pedih siksa-Nya.”

​Allah menyambut permohonan tulus hamba-hamba-Nya yang berdosa, betapapun besar dan banyaknya dosa tersebut. Allah berfirman: “Sampaikanlah kepada hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri: ‘Janganlah berputus asa dari rahmat Allah’. Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa. Dialah Al-Ghafur Ar-Rahim” (Q.S. Az-Zumar [39]: 53). Bahkan terbuka kemungkinan bagi yang tidak memohon—selama dosanya bukan mempersekutukan Allah—untuk diampuni-Nya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan-Nya dengan sesuatu dan mengampuni dosa selain dari itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya” (Q.S. An-Nisa’ [4]: 48 dan 116).

​Sahabat Nabi, Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, berkata: Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah berfirman: “Wahai putra-putri Adam, selama engkau berdoa kepada-Ku dan mengharapkan ampunan-Ku, Aku ampuni untukmu apa yang telah engkau lakukan di masa lampau dan Aku tidak peduli betapapun banyaknya dosamu. Wahai putra-putri Adam, seandainya dosa-dosamu telah mencapai ketinggian langit, kemudian engkau memohon ampunan kepada-Ku, Aku ampuni untukmu. Seandainya engkau datang menemui-Ku membawa dosa-dosa seluas wadah bumi ini dan engkau datang menjumpai-Ku dengan tidak mempersekutukan Aku dengan sesuatu, niscaya Aku datang kepadamu dengan pengampunan seluas wadah itu pula” (H.R. Tirmidzi dan Ahmad).

Baca...  Kebijakan Nabi Muhammad Terhadap Bani Quraizah (2)

​Allah memerintahkan kepada manusia agar meneladani-Nya dalam memberi Maghfirah: “Katakanlah kepada orang-orang yang beriman agar yaghfiru (membuka pintu maaf/menutupi aib/memaafkan) orang-orang yang tidak mengharapkan hari-hari Allah” (Q.S. Al-Jatsiyah [45]: 14). Di tempat lain dinyatakan-Nya bahwa: “Siapa yang bersabar dan menutupi kesalahan orang lain/memaafkan, maka sungguh hal yang demikian termasuk hal yang diutamakan” (Q.S. Asy-Syura [42]: 43).

​Seseorang yang memenuhi tuntutan ini atau meneladani sifat Allah yakni Al-Ghaffar, akan menutupi keburukan orang lain, tidak membeberkannya, dan akan menampakkan kelebihan sesamanya, tidak menampilkan kekurangannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Siapa yang menutupi aib seorang Muslim, Allah menutupi aibnya di dunia dan akhirat.” Dalam riwayat lain: “Tidak seorang manusia pun menutupi aib orang lain di dunia kecuali Allah menutupi aibnya di hari kemudian” (H.R. Muslim). Karena itu, orang yang suka mengumpat, pendendam, pembalas kejahatan, dan pembeber kesalahan pada hakikatnya tidak menyandang sedikit pun dari sifat ini.

​Sumber: Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab, “Menyingkap Tabir Ilahi: Asma al-Husna dalam Perspektif Al-Qur’an”, Lentera Hati.

262 posts

About author
Redaktur Kuliah Al Islam
Articles
Related posts
KeislamanPendidikan

Transformasi Literasi Islam di Era Digital: Peran, Tantangan & Etika AI

5 Mins read
​Perkembangan dunia digital berlangsung sangat pesat, membawa perubahan yang mengalir perlahan hingga makin deras dalam kehidupan manusia. Perubahan ini tidak lagi hanya…
Keislaman

Cermin Hati yang Keruh: Refleksi Kritis atas Hikmah Ke-13 Al-Hikam

3 Mins read
Kita hidup di zaman yang memuja kepenuhan. Penuh jadwal, penuh target, penuh citra, penuh validasi. Bahkan dalam beragama, kita sering terjebak mengukur…
HukumKeislaman

​Fiqih Jinayat Maritim: Hukum Bom Ikan & Perusakan Karang

4 Mins read
​Berdasarkan data UNEP (United Nations Environment Programme) dan World Resources Institute (WRI) dalam laporan Reefs at Risk Revisited, Indonesia menyumbang sekitar 14%…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *