Berita

Hilirisasi Ekonomi: Menjaga Kedaulatan dan Keadilan Sosial

1 Mins read

JAKARTA | Indonesia — Politisi senior Partai Golkar, Ridwan Hisjam, menilai kebijakan hilirisasi ekonomi Indonesia tidak boleh dilepaskan dari akar peradaban bangsa. Tanpa pijakan ideologis yang kuat, hilirisasi berisiko hanya menjadi agenda industrialisasi teknokratis yang minim dampak bagi kesejahteraan rakyat.

​Menurut Ridwan, sejak awal kemerdekaan, konstitusi telah menegaskan bahwa pengelolaan sumber daya alam adalah instrumen untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Namun, dalam praktiknya, orientasi kebijakan ekonomi kerap bergeser pada kepentingan jangka pendek dan kelompok tertentu.

​”Hilirisasi seharusnya menjadi alat kedaulatan ekonomi, bukan sekadar proyek bernilai besar yang manfaatnya tidak dirasakan secara merata,” ujar Ridwan dalam keterangan tertulisnya.

​Ia menegaskan, hilirisasi yang tidak berangkat dari nilai peradaban bangsa berpotensi melahirkan ketimpangan baru, terutama di daerah penghasil sumber daya alam. Ridwan secara khusus menyoroti masih terbatasnya keterlibatan masyarakat lokal dan UMKM dalam rantai industri hilir yang tengah dikembangkan pemerintah.

​Meneguhkan Pancasila dalam Ekonomi

​Menurutnya, menelusuri kembali peradaban bangsa berarti meneguhkan kembali Pancasila sebagai arah pembangunan ekonomi nasional. Prinsip keadilan sosial, kata dia, harus menjadi indikator utama keberhasilan hilirisasi, bukan semata peningkatan ekspor atau pertumbuhan industri.

​”Pertumbuhan ekonomi tanpa keadilan hanya akan memperlebar jurang sosial. Di sinilah negara harus hadir, memastikan hilirisasi memberi nilai tambah bagi rakyat, bukan hanya bagi pemodal,” tegasnya.

​Sebagai informasi, Ridwan Hisjam merupakan politisi senior Partai Golkar dengan pengalaman panjang di parlemen. Ia telah lima periode menjabat sebagai anggota DPR RI dan kerap terlibat dalam perumusan kebijakan ekonomi nasional. Pengalaman tersebut, menurutnya, menunjukkan bahwa keberhasilan pembangunan ekonomi sangat ditentukan oleh keberpihakan negara.

​Ia mendorong pemerintah untuk memperkuat regulasi, memperluas transfer teknologi, serta memastikan industri hilir terintegrasi dengan ekonomi rakyat. Tanpa langkah-langkah tersebut, Ridwan mengingatkan bahwa hilirisasi ekonomi berpotensi kehilangan makna strategisnya sebagai instrumen transformasi nasional.

Baca...  Milenial Menulis, Milenial Mengkritik

​Ridwan berharap, dengan menjadikan nilai-nilai peradaban bangsa sebagai pijakan utama, kebijakan hilirisasi dapat menjadi instrumen pembangunan yang berdaulat, berkeadilan, dan berkelanjutan.

2452 posts

About author
Kuliah Al Islam - Mencerdaskan dan Mencerahkan
Articles
Related posts
BeritaMuhammadiyahSUMU

SUMU Jakarta Gelar Inkubasi Bisnis dan Pembiayaan UMKM Rp3 Miliar

1 Mins read
​Serikat Usaha Muhammadiyah (SUMU) DKI Jakarta bekerja sama dengan Lembaga Pengembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (LP UMKM) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM)…
BeritaMuhammadiyah

Akademisi UM Bima Soroti Darurat Sampah dan Krisis Air di Forum Nasional Pusdal LH Bali Nusra

2 Mins read
​Kota Bima, Rabu (28/10/2026) Pukul 09.00–12.00 WITA — Dunia akademik kembali mendapat tempat strategis dalam penyusunan kebijakan lingkungan nasional. Pusat Pengendalian Lingkungan…
BeritaMuhammadiyahSUMU

​SUMU dan KJRI Guangzhou Dorong Ekspor & SDM Industri Indonesia

2 Mins read
Serikat Usaha Muhammadiyah (SUMU) melakukan audiensi dengan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Guangzhou, Tiongkok, pada 14 Oktober 2026 lalu. Pertemuan ini merupakan…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

×
Keislaman

Gus Ulil Abshar Abdalla: Al-Ghazali dan Pengetahuan Ilmu Kalam