Bagaimana satu ayat bisa memiliki banyak suara?
Banyak orang mengira bahwa setiap ayat Al-Qur’an hanya memiliki satu cara baca dan satu makna tunggal. Padahal, tradisi qira’at menunjukkan bahwa Al-Qur’an tidak hanya kaya dalam makna, tetapi juga dalam cara pelafalannya. Qira’at adalah metode membaca Al-Qur’an yang diturunkan dari Nabi Muhammad SAW melalui sanad yang sahih. Setiap bacaan harus sesuai dengan kaidah bahasa Arab dan rasm Utsmani, namun tetap dapat berbeda dalam pelafalan.
Perbedaan bacaan muncul karena variasi dialek para sahabat, sejarah periwayatan, dan metode pengajaran para qari’ di berbagai wilayah. Karena itu, keragaman qira’at bukanlah bentuk kesalahan, melainkan kekayaan Al-Qur’an yang memungkinkan wahyu berbicara dengan cara berbeda kepada berbagai generasi, sekaligus membuka beragam nuansa makna bagi pembacanya.
Salah satu contoh paling menarik terdapat pada Surah Maryam ayat 24, yang menghadirkan dua qira’at sahih dengan makna yang saling melengkapi.
Allah berfirman:
فَنَادٰىهَا مِنْ تَحْتِهَآ اَلَّا تَحْزَنِيْ قَدْ جَعَلَ رَبُّكِ تَحْتَكِ سَرِيًّا ٢٤
“Maka ia memanggilnya dari bawahnya, ‘Janganlah engkau bersedih. Sungguh Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu’”. (QS. Maryam [19]: 24)
Ayat ini tampak sederhana, namun di balik kesederhanaannya, tersimpan kedalaman makna yang luar biasa. Perbedaan qira’at pada ayat ini melahirkan dua versi bacaan yang sama-sama sahih. Dari perbedaan inilah muncul gagasan bahwa satu ayat dapat memiliki “banyak suara”. Konsep ini menghadirkan dua gambaran emosional sekaligus pada saat Maryam mengalami momen paling berat dalam hidupnya.
Ayat ini turun ketika Maryam menghadapi proses kelahiran seorang diri, tanpa pertolongan siapapun. Pada saat itu datang seruan yang menenangkan dirinya. Namun, siapakah yang menyeru Maryam?
Menurut Tafsir Ibn Katsir, frasa فَنَادَاهَا مِنْ تَحْتِهَا dapat dibaca dalam dua qira’at yang sahih, yaitu مِنْ تَحْتِهَا (min taḥtihā) dan مَنْ تَحْتِهَا (man taḥtihā). Perbedaan satu huruf ini menghasilkan dua versi makna yang berbeda.
Bacaan Pertama: “مِنْ تَحْتِهَا” — Panggilan dari Jibril AS
Dalam bacaan ini, huruf مِنْ (min) berarti “dari”, sehingga maknanya menjadi: “Maka (Jibril) memanggil Maryam dari bawahnya”. Ibn Katsir menjelaskan bahwa Jibril AS berada di tempat yang lebih rendah daripada Maryam untuk menyampaikan seruan lembut: “Janganlah engkau bersedih”. Bacaan ini menekankan ketenangan yang datang dari luar, melalui pertolongan malaikat yang diutus Allah pada saat Maryam menghadapi kesulitan menjelang kelahiran.
Bacaan Kedua: “مَنْ تَحْتِهَا” — Panggilan dari Isa AS
Bacaan kedua menggunakan مَنْ (man) yang berarti “yang”, sehingga maknanya menjadi:
“Maka yang berada di bawahnya menyeru…”, yaitu Nabi Isa AS. Dalam bacaan ini, Nabi Isa AS digambarkan berbicara kepada ibunya bahkan sebelum lahir, sejalan dengan ayat 30 ketika Isa berbicara kepada kaumnya saat masih bayi. Seruan itu menegaskan bahwa mukjizat kenabian Isa sudah hadir sejak dalam kandungan, dan ketenangan yang Maryam terima bukan datang dari luar, melainkan muncul dari bayi yang ada dalam rahimnya.
Keindahan qira’at terlihat dari bagaimana kedua bacaan memperkaya kisah Maryam tanpa mengubah inti pesannya. Di mana satu bacaan menekankan ketenangan yang datang dari langit melalui Jibril, sementara yang lain menunjukkan ketenangan yang lahir dari mukjizat bayi Isa. Pertolongan eksternal maupun mukjizat internal ini sama-sama menegaskan satu hal: Allah tidak pernah meninggalkan Maryam. Kedua bacaan ini menghadirkan nuansa spiritual yang kuat, dua sudut pandang, namun satu pesan, sekaligus memperlihatkan bahwa satu ayat Al-Qur’an bisa memiliki “banyak suara”. Variasi qira’at memungkinkan makna beragam sekaligus meneguhkan pesan ilahi yang sama, membuka jendela pemahaman yang unik bagi pembaca.
Mengapa satu ayat bisa memiliki dua versi bacaan?
Jawabannya terletak pada prinsip qira’at sahih. Rasm Utsmani yang tidak berharakat memungkinkan lebih dari satu kemungkinan bacaan. Selama sesuai kaidah bahasa, memiliki jalur periwayatan, dan tidak bertentangan dengan akidah, qira’at diterima sebagai bagian dari qira’at mutawatir. Ibn Katsir mencatat kedua versi tanpa menolak salah satunya, menunjukkan terbukanya tradisi tafsir klasik terhadap keragaman bacaan sebagai kekayaan makna, bukan pertentangan.
Jika direnungkan, kedua bacaan menghadirkan nuansa emosional yang kuat. Bayangkan Maryam dalam ketakutan, lalu mendengar suara yang menenangkannya. Entah suara itu datang dari Jibril atau dari Isa, pesan yang disampaikan tetap sama: “Janganlah engkau bersedih”. Seruan ini menegaskan bahwa kelahiran Isa adalah kehendak Allah dan bahwa Maryam mendapat penjagaan langsung dari-Nya.
Berdasarkan Jurnal Qira’at al-Qur’an dan Tafsir Ibn Katsir, kita memahami bahwa qira’at bukan sekadar variasi bacaan, tetapi juga jendela makna. Keragaman bacaan membuka ruang tafsir yang luas, sehingga satu ayat dapat “berbicara” dengan cara berbeda, tetapi tetap mengarah pada pesan inti yang sama.
Dengan demikian, perbedaan qira’at dalam Surah Maryam ayat 24 menegaskan bahwa Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya yang beriman. Baik melalui malaikat maupun melalui bayi dalam kandungan, Maryam diberi ketenangan yang ia butuhkan. Dua bacaan ini memperkaya refleksi tentang bagaimana Allah memberi pertolongan dan bagaimana qira’at menjadi pintu untuk memahami kedalaman makna Al-Qur’an.
Dengan demikian, ayat ini bukan hanya bagian dari kisah Maryam, tetapi juga contoh nyata bagaimana satu teks wahyu dapat memancarkan lebih dari satu makna tanpa kehilangan kesahihan. Inilah keindahan qira’at: satu wahyu, banyak suara, dan setiap bacaan membuka jendela pemahaman yang unik bagi pembaca.
Referensi
Al-Sheikh, Abdullah bin Muhammad bin Abdurahman bin Ishaq. Tafsir Ibnu Katsir. Jilid 5. n.d.
Rasyidah, Jihan Zahirah, Arinatun Najah, Ahmad Muzaqi, and Hakmi Hidayat. “Qira’at Al-Qur’an.” Jurnal Kajian Islam dan Sosial Keagamaan 2, no. 4 (2025): 722–726. https://jurnal.ittc.web.id/index.php/jkis/index

