Opini

Kalahnya Jargon Energi Terbarukan

2 Mins read

​Transisi dari energi fosil ke energi terbarukan merupakan salah satu topik krusial dalam diskursus global saat ini. Meskipun mayoritas sepakat bahwa peralihan ini vital bagi keberlanjutan planet bumi, terdapat berbagai kendala fundamental yang menghambat implemetasinya. Berikut adalah beberapa faktor utama mengapa transisi ini masih sulit diwujudkan:

​1. Tingginya Biaya Investasi Awal

​Biaya modal (capital expenditure) yang sangat tinggi menjadi hambatan utama. Pembangunan infrastruktur energi terbarukan—seperti pembangkit listrik tenaga surya dan angin—memerlukan investasi awal yang besar. Banyak negara mengkhawatirkan implikasi pembiayaan ini terhadap stabilitas ekonomi dan politik internal. Proyek jangka panjang kerap dinilai berisiko memicu ketidakpuasan publik akibat pengalihan alokasi anggaran (International Renewable Energy Agency [IRENA], 2021). Dampaknya, sejumlah pemerintahan cenderung mempertahankan eksploitasi energi fosil yang dianggap lebih murah dan instan secara finansial.

​2. Pengaruh Lobi Industri Energi Fosil

​Sektor energi fosil masih memegang kendali signifikan terhadap konstelasi politik dan ekonomi global. Pemimpin industri fosil memanfaatkan kekuatan kapital untuk melakukan intervensi kebijakan serta merancang narasi publik bahwa energi fosil lebih andal dalam menjaga ketahanan energi nasional (Oreskes & Conway, 2010). Dalam beberapa kasus lokal, argumen normatif hingga legitimasi keagamaan turut dimanfaatkan untuk membatasi ruang gerak kebijakan pro-lingkungan yang diusung oleh para akademisi dan aktivis.

​3. Ketergantungan Struktur Ekonomi pada Energi Fosil

​Keterikatan sistemik terhadap energi fosil menyulitkan proses dekarbonisasi. Negara-negara yang mengandalkan pendapatan utama dari ekspor minyak dan gas menghadapi ancaman destabilisasi ekonomi dan sosial jika transisi dilakukan secara mendadak (World Bank, 2022). Narasi mengenai potensi dampak kerugian (kemudaratan) ekonomi ini kerap dijadikan alasan utama untuk menunda restrukturisasi energi.

Baca...  Menggugat Alibi Stunting dalam Makan Bergizi Gratis: Sebuah Kritik Kebijakan yang Irasional

​4. Keterbatasan Teknologi Penyimpanan Energi

​Sifat intermiten (intermittent) dari sumber energi terbarukan—seperti ketergantungan pada cuaca dan sinar matahari—menjadi tantangan teknis tersendiri. Teknologi penyimpanan energi berupa baterai skala besar (grid-scale battery storage) saat ini masih dalam tahap pengembangan dan belum sepenuhnya menyamai keandalan pasokan energi fosil (Bahar et al., 2021). Kendati demikian, penundaan investasi pada teknologi penyimpanan justru akan memperlambat kurva pembelajaran dan efisiensi teknologi tersebut di masa depan.

​5. Pengabaian Etika Ekologis (Ecological Ethics)

​Kesadaran akan pentingnya etika lingkungan kerap tersisih oleh pragmatisme ekonomi jangka pendek. Pendekatan antroposentris yang mengesampingkan ekosistem laut dan keanekaragaman hayati mencerminkan cara pandang yang hanya berorientasi pada keuntungan finansial sesaat (Taylor, 2011). Pengabaian terhadap peran vital organisme lain dalam menjaga keseimbangan biosfer berpotensi merugikan generasi mendatang.

​Rekomendasi

​Terlepas dari berbagai dinamika politik dan ekonomi yang menghambat, komitmen terhadap transisi energi yang berkelanjutan harus tetap dijaga. Upaya komprehensif diperlukan melalui percepatan inovasi teknologi penyimpanan energi, perumusan kebijakan yang konsisten, serta peningkatan edukasi publik mengenai pentingnya energi bersih.

​Perubahan sistemik membutuhkan langkah berani dan visioner dari seluruh pemangku kepentingan. Tanpa komitmen nyata, beban kerusakan lingkungan akan ditanggung oleh generasi masa depan.

​Oleh: Julhelmi Erlanda (Mahasiswa Doktoral Pendidikan Kader Ulama & Universitas PTIQ Jakarta)

​Daftar Referensi

  • ​Bahar, H., et al. (2021). Renewables 2021: Analysis and forecast to 2026. International Energy Agency (IEA).
  • ​IRENA. (2021). Renewables Power Generation Costs in 2020. International Renewable Energy Agency.
  • ​Oreskes, N., & Conway, E. M. (2010). Merchants of Doubt. Bloomsbury Press.
  • ​Taylor, P. W. (2011). Respect for Nature: A Theory of Environmental Ethics. Princeton University Press.
  • ​World Bank. (2022). The Energy Progress Report. World Bank Group.
Baca...  Bagaimana Sebenarnya Kerukunan dalam Islam
Related posts
Opini

Negara Darurat Moral: Bencana Kedua di BNPB

3 Mins read
Indonesia adalah negeri yang secara geografis dikaruniai sekaligus dikutuk. Cincin api Pasifik menjadikannya laboratorium bencana yang nyaris tiada henti: gempa, tsunami, letusan…
Opini

MBG: Ambisi Gizi, Petaka Keracunan

3 Mins read
Program Makan Bergizi Gratis lahir dari rahim ambisi besar: mencerdaskan generasi bangsa melalui asupan nutrisi yang layak. Narasi yang dijual ke publik…
Opini

Pemimpin Zalim Pasti Celaka: Ancaman Dunia Akhirat dalam Islam

4 Mins read
Kepemimpinan dalam Islam merupakan sebuah amanah agung, bukan sekadar takhta atau sarana meraup kekuasaan demi kepentingan pribadi maupun golongan. Seorang pemimpin idealnya…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *